Posted in on December 18th, 2009
Mukadimmah “Free… Sebuah Realitas!”
Keinginan yang nyata mungkin sesuatu yang membuat kita selalu teringinkan bagi para pembuat hati, ketika para penikmat candu dunia terjebak dengan jeratannya. Mereka akan menjadi suatu asap yang mengepul, yang hangat dengan wewangiannya. Mungkin bisa dibilang ketika kita sedang menghisap shisha yang mempunyai aroma bebuahan yang khas, maka akan menciptakan suasana yang begitu ternyamankan. Dengan menyebar di sebuah ruangan yang pekat akan gadis-gadis manja di masing-masing sisi, maka mereka akan bisa tertawa terbahak.
Ketika semua sedang terbawa akan keadaan yang begitu termabukkan di atas sisa-sisa alcohol yang terteguk, mereka hanya akan mengingat tentang hari kemarin dan tak akan teringat akan hal yang sekarang, dengan kejadian yang tak lazim untuk disebutkan. Bisa terjadi, seperti ketika kita sudah terbujuk akan hati yang sedang terkapar tak berdaya lalu kemudian mereka mendekap dengan rasa yang selalu menajam dan memanja. Saat melihat tatapan yang penuh intrik untuk bisa berinteraksi dengannya, mereka menelanjangi tubuh lawan mainnya dan mungkin dirinya sendiri dengan sangat mudah dan gampangnya.
Mereka seperti menghipnotis dan juga terhipnotis dengan semua kesenangan dunia, seperti panggung hiburan yang bergemerlap dengan ribuan warna cahaya benderang. Di kota yang megah dengan sumringahnya, mereka pastinya bisa membesarkan gadis-gadis belia dan setelahnya disulap menjadi penghibur ketika gelap sudah menyelimuti bumi. Mereka seperti seseorang yang hanya bisa menjadi penghangat bagi orang-orang yang selalu membutuhkan sesuatu yang nyata untuk disentuh, diraba dan juga untuk diperjual-belikan dengan cara yang layak ataupun sebaliknya.
Sempat diriku berpikir ketika berada di lorong kamar yang sedikit kusam termakan usia : “Apa yang ada dipikirannya ketika hal itu memang benar-benar ada dan itu begitu tabu hingga bisa mengganjal pikiran kita? Apa yang menjadi tolak ukur untuk bisa mempertahankan hal tersebut, apakah menjauh, menghindar dan melupakan tempat tersebut? ataukah… ketika kita mendekat dan setelah puas, apakah kita akan melupakannya sama sekali?”
Ada perkataan yang terucap saat mereka sudah berada di tempat yang begitu salahnya dan dengan keterpaksaan harus mereka lakukan terhadap mangsa-mangsanya. Misalnya saja : “Apakah aku harus melakukan hal itu dengan menarik mereka secara halus dan perlahan ke tempat yang begitu indahnya, kemudian setelah itu disorong ke dalam kemaksiatan? Ataukah… dengan cara memaksa, kemudian mereka terhanyut akan suasana yang begitu menggoda, sampai mereka begitu terbuai oleh tubuh indahku itu? Yang jelas yang aku lakukan adalah mendapatkan sesuatu untuk aku dapatkan, untuk aku tabung di bawah bantal tempat tidurku nanti.”
Baik, ketika mereka (wanita) sedang dalam keterdesakan karena tuntutan ekonomi yang membelit, apakah mereka akan mencoba mendekat lalu bersetubuh dengan halusnya? Apakah mereka akan mencoba menarik mereka dengan kelaparan akan nafsu-nafsunya itu? Mungkin seperti itu kiranya yang akan mereka lakukan, tanpa ataupun dengan memikirkan kehidupan di depannya.
Ada beberapa alasan juga tentang seseorang yang tercandu dengan pikiran sempitnya itu, diantaranya : “Apakah mereka melakukannya hanya demi mengumpulkan tumpukan materi yang memang ingin terisikan akan isi tas serta ATM-nya? Apakah mereka ingin memperkaya diri dengan kegiatan yang begitu naif untuk berulah? Apakah itu hanya beribu-ribu alasan mereka saja untuk berinteraksi dengan kehidupan yang memang begitu keras? dan satu lagi… apakah mereka ingin memiliki segudang pria sebagai koleksi ketika sudah atau bisa menyetubuhinya, hingga tak bisa dihitung lagi berapa banyak mereka ditiduri atau meniduri?” Ya sudahlah, mungkin mereka saja yang tahu akan apa yang mereka alami di hidupnya. Tapi yang terbesit akan keyakinan pada dirinya nanti, mungkin… suatu niat untuk berubah dikemudian hari. Suatu pembenahan diri untuk bisa menjalani hidup yang semestinya, yang sejalan dengan apa yang dirinya kehendaki sebelumnya.
Ketika ditanya sekilas tentang kehidupan yang dilatarbelakangi dengan keadaan yang tak menentu, mereka hanya menjawab dengan biasa : “Aku begini sekarang hanya untuk mempertahankan hidup di atas gemerlap kota yang mengganas. Aku hanya bisa melakukan kegiatan yang begitu busuknya ketika diriku mulai memanjanya. Jika tak begitu, apa yang bisa kami makan saat perut kami terus berkeroncong menginginkannya? Apa yang bisa kami miliki saat tak ada lagi yang bisa dicari? dan jika aku tak seperti yang sekarang ini, aku nantinya akan seperti orang yang tercampakkan dengan kemewahan harta… dan saat itu juga aku akan ditertawakan oleh mereka-mereka yang memiliki segudang kekayaan duniawi. Mungkin saat mereka melihat kami jatuh mengenaskan, mereka pastinya akan menertawai kami sebagai orang yang bodoh tanpa melakukan hal-hal yang berarti dimata orang-orang sombong itu. Bangsat!”
Dan, saat ditanya mengenai penyesalan akan dirinya, mereka hanya bisa menjawab dengan ringannya kepadaku, “Lalu ketika aku bertanya akan takdirku sendiri, kenapa aku tak dilahirkan untuk menjadi kaya dengan beribu-ribu harta banyaknya? Mungkin jika aku sudah memiliki itu, mungkin juga aku akan menyisakan pesta-pesta malam yang bisa menemaniku di malam itu juga. Namun sayang, sekarang ini aku tak bisa memiliki apa yang aku inginkan lebih. Seperti konglomerat yang pandai mempermainkan materi, termasuk mengelabui seorang dewi malam yang terus berdandankan diri melayani.” Free… Sebuah Realitas!
salam hangat,
dhie_uno
Ph : +628 123 624 6060
E : private_modem149@yahoo.com
