dhie_Uno

Just another Speedyland.telkomspeedy.com weblog

Posted in on December 18th, 2009

free.jpg

Mukadimmah “Free… Sebuah Realitas!”

Keinginan yang nyata mungkin sesuatu yang membuat kita selalu teringinkan bagi para pembuat hati, ketika para penikmat candu dunia terjebak dengan jeratannya. Mereka akan menjadi suatu asap yang mengepul, yang hangat dengan wewangiannya. Mungkin bisa dibilang ketika kita sedang menghisap shisha yang mempunyai aroma bebuahan yang khas, maka akan menciptakan suasana yang begitu ternyamankan. Dengan menyebar di sebuah ruangan yang pekat akan gadis-gadis manja di masing-masing sisi, maka mereka akan bisa tertawa terbahak.

Ketika semua sedang terbawa akan keadaan yang begitu termabukkan di atas sisa-sisa alcohol yang terteguk, mereka hanya akan mengingat tentang hari kemarin dan tak akan teringat akan hal yang sekarang, dengan kejadian yang tak lazim untuk disebutkan. Bisa terjadi, seperti ketika kita sudah terbujuk akan hati yang sedang terkapar tak berdaya lalu kemudian mereka mendekap dengan rasa yang selalu menajam dan memanja. Saat melihat tatapan yang penuh intrik untuk bisa berinteraksi dengannya, mereka menelanjangi tubuh lawan mainnya dan mungkin dirinya sendiri dengan sangat mudah dan gampangnya.

Mereka seperti menghipnotis dan juga terhipnotis dengan semua kesenangan dunia, seperti panggung hiburan yang bergemerlap dengan ribuan warna cahaya benderang. Di kota yang megah dengan sumringahnya, mereka pastinya bisa membesarkan gadis-gadis belia dan setelahnya disulap menjadi penghibur ketika gelap sudah menyelimuti bumi. Mereka seperti seseorang yang hanya bisa menjadi penghangat bagi orang-orang yang selalu membutuhkan sesuatu yang nyata untuk disentuh, diraba dan juga untuk diperjual-belikan dengan cara yang layak ataupun sebaliknya.

Sempat diriku berpikir ketika berada di lorong kamar yang sedikit kusam termakan usia : “Apa yang ada dipikirannya ketika hal itu memang benar-benar ada dan itu begitu tabu hingga bisa mengganjal pikiran kita? Apa yang menjadi tolak ukur untuk bisa mempertahankan hal tersebut, apakah menjauh, menghindar dan melupakan tempat tersebut? ataukah… ketika kita mendekat dan setelah puas, apakah kita akan melupakannya sama sekali?”

Ada perkataan yang terucap saat mereka sudah berada di tempat yang begitu salahnya dan dengan keterpaksaan harus mereka lakukan terhadap mangsa-mangsanya. Misalnya saja : “Apakah aku harus melakukan hal itu dengan menarik mereka secara halus dan perlahan ke tempat yang begitu indahnya, kemudian setelah itu disorong ke dalam kemaksiatan? Ataukah… dengan cara memaksa, kemudian mereka terhanyut akan suasana yang begitu menggoda, sampai mereka begitu terbuai oleh tubuh indahku itu? Yang jelas yang aku lakukan adalah mendapatkan sesuatu untuk aku dapatkan, untuk aku tabung di bawah bantal tempat tidurku nanti.”

Baik, ketika mereka (wanita) sedang dalam keterdesakan karena tuntutan ekonomi yang membelit, apakah mereka akan mencoba mendekat lalu bersetubuh dengan halusnya? Apakah mereka akan mencoba menarik mereka dengan kelaparan akan nafsu-nafsunya itu? Mungkin seperti itu kiranya yang akan mereka lakukan, tanpa ataupun dengan memikirkan kehidupan di depannya.

Ada beberapa alasan juga tentang seseorang yang tercandu dengan pikiran sempitnya itu, diantaranya : “Apakah mereka melakukannya hanya demi mengumpulkan tumpukan materi yang memang ingin terisikan akan isi tas serta ATM-nya? Apakah mereka ingin memperkaya diri dengan kegiatan yang begitu naif untuk berulah? Apakah itu hanya beribu-ribu alasan mereka saja untuk berinteraksi dengan kehidupan yang memang begitu keras? dan satu lagi… apakah mereka ingin memiliki segudang pria sebagai koleksi ketika sudah atau bisa menyetubuhinya, hingga tak bisa dihitung lagi berapa banyak mereka ditiduri atau meniduri?” Ya sudahlah, mungkin mereka saja yang tahu akan apa yang mereka alami di hidupnya. Tapi yang terbesit akan keyakinan pada dirinya nanti, mungkin… suatu niat untuk berubah dikemudian hari. Suatu pembenahan diri untuk bisa menjalani hidup yang semestinya, yang sejalan dengan apa yang dirinya kehendaki sebelumnya.

Ketika ditanya sekilas tentang kehidupan yang dilatarbelakangi dengan keadaan yang tak menentu, mereka hanya menjawab dengan biasa : “Aku begini sekarang hanya untuk mempertahankan hidup di atas gemerlap kota yang mengganas. Aku hanya bisa melakukan kegiatan yang begitu busuknya ketika diriku mulai memanjanya. Jika tak begitu, apa yang bisa kami makan saat perut kami terus berkeroncong menginginkannya? Apa yang bisa kami miliki saat tak ada lagi yang bisa dicari? dan jika aku tak seperti yang sekarang ini, aku nantinya akan seperti orang yang tercampakkan dengan kemewahan harta… dan saat itu juga aku akan ditertawakan oleh mereka-mereka yang memiliki segudang kekayaan duniawi. Mungkin saat mereka melihat kami jatuh mengenaskan, mereka pastinya akan menertawai kami sebagai orang yang bodoh tanpa melakukan hal-hal yang berarti dimata orang-orang sombong itu. Bangsat!”

Dan, saat ditanya mengenai penyesalan akan dirinya, mereka hanya bisa menjawab dengan ringannya kepadaku, “Lalu ketika aku bertanya akan takdirku sendiri, kenapa aku tak dilahirkan untuk menjadi kaya dengan beribu-ribu harta banyaknya? Mungkin jika aku sudah memiliki itu, mungkin juga aku akan menyisakan pesta-pesta malam yang bisa menemaniku di malam itu juga. Namun sayang, sekarang ini aku tak bisa memiliki apa yang aku inginkan lebih. Seperti konglomerat yang pandai mempermainkan materi, termasuk mengelabui seorang dewi malam yang terus berdandankan diri melayani.” Free… Sebuah Realitas!


salam hangat,

dhie_uno

Ph : +628 123 624 6060

E : private_modem149@yahoo.com

Posted in Uncategorized on December 18th, 2009

Keep taking of book ‘Free… Sebuah Realitas!

free.jpg

Tentang kehidupannya…

Mereka mendusta, mereka takkan pergi…

Mereka saat mengharap, mereka juga takkan bisa beralih…

‘Sebuah kehidupan darinya…’

Itu adalah sebuah roda yang bergerak kencang,

tanpa pergerakkan perlahan dengan semestinya…

‘Sebuah menara yang berdiri kokoh…’

Itu adalah sebuah pegangan dari bangunan kejiwaannya,

yang sudah tertanam jauh sebelum dirinya menghela nafas panjang dikehidupannya…

‘Sebuah genggaman yang tak menamprak…’

Itu adalah sebuah keyakinan jiwanya saat itu,

saat dirinya berteguh hati ketika hal yang terburuk bisa menimpanya dikemudian hari…

Dan,

‘Sebuah perlarian terjauhnya…’

Itu adalah sebuah kesempatan untuk bisa mencapai apa yang diinginkannya,

saat dirinya tak bisa berpangku tangan lagi akan apa yang bisa mereka andalkan.

(Mereka hanya bisa membohongi dirinya sendiri ketika berada di dalam keadaannya itu. Mereka tak akan bisa pergi ketika pengharapannya tak akan bisa dihindari saat semuanya akan terus berpijak. Kesempatan dan juga keinginan yang bisa mereka raih tentunya harus bisa mereka dapatkan sesegera mungkin jika hal yang di luar perkiraannya tak bisa mereka dapatkan ataupun dengan tak menyengaja musnah bersama angin yang memang terus bergerak dan tak akan kembali. Jalan itulah yang bisa mereka dapatkan hingga apa yang terjadi terjadilah seperti apa yang sudah menjadi alur kehidupannya.)

salam hangat,

dhie_uno

Ph : +628 123 624 6060

E : private_modem149@yahoo.com

Posted in on August 5th, 2009

Keep taking of book ‘Free… Sebuah Realitas!

free.jpg

“Andai saja aku bisa memilih jalan untuk menjadi yang sesempurna mungkin, aku akan memilih jalan yang tak bisa mereka ketahui dan mereka jelajahi,” sebuah pesan dari mereka yang sudah melepas dan meninggalkan keperawanannya…

Diartikan bahwa ; ‘Kehidupan yang sekarang dan juga kehidupan yang tak teringinkan membuat sesuatu itu begitu tak jelas, mengapa? Karena dengan himpitan waktu yang terus menuntut untuk terbiasa lebih, maka mereka melakukannya dengan keterpaksaan diri. Misalnya saja menjadi wanita yang terus menghibur di saat malam sudah menunjukan waktunya. Pesan yang tersirat dari mereka adalah ; “Jika aku bisa mendapatkan apa yang aku harap sebelum menjadi yang sekarang ini, yaitu menjadi penghibur malam. Maka aku tak akan pernah melirik ataupun menginjakan kaki di tempat tersebut dengan niat yang nyata, karena aku tak inginkan mereka menyentuh tubuhku dengan mudah hanya karena dengan imbalan materi pengganti uang makan mereka (keluarga terbesar) dan diriku sendiri. Aku akan bisa tidur dengan nyenyak, tanpa ada laki-laki penggombar nafsu di sampingku. Aku akan bisa bernafas dengan panjang ketika aku menemukan keindahan di penglihatanku, tanpa ada penghalang dari badan mereka, di depanku.’

“Free… sebuah realitas!” adalah sebuah kehidupan yang tak begitu jauh dengan wanita yang sedang memperlihatkan keindahan lekuk tubuhnya, padahal dari itu semua mereka menangis dan juga merasa sakit. Satu hal tentang cerita ini adalah menceritakan beberapa *Gadis malam, dunia dan kehidupannya…

Diangkat dari sebuah kehidupan, diantaranya mengenai beberapa orang yang bercerita tentang apa yang terjadi di hidupnya. Bagaimana tidak, jika apa yang dilakukannya adalah semata-mata untuk mempertahankan hidup yang terus menyita waktunya, untuk terus hidup di antara tantangan dan juga hinaan dari orang-orang berkantong tebal. Maka mereka saat inilah terus mempertontonkan dan melakukan apa yang disebut pertarungan dengan dunia yang tak seharusnya mereka lakukan.

salam hangat,

dhie_uno

Ph : +628 123 624 6060

E : private_modem149@yahoo.com

Posted in Uncategorized on August 5th, 2009

Ada tiga (3) hal yang bisa aku terjemahkan mengenai wanita yang hidup di luar malam yang dingin tersebut (wanita yang terus mendagangkan dirinya untuk kepuasan laki-lakinya), dan itu terdengar ketika mereka mendengungkan perkataannya tersebut di sebuah ruangan yang sedikit menyepi dari tempat ramai itu. Pertama, wanita yang bertarung untuk kehidupannya dan kehidupan mereka. Kehidupan ini memang sudah tak wajar untuk dimengerti baginy. Mereka tak perduli lagi mengenai nasib wanita yang hancur gara-gara ekonominya tak stabil. Semuanya hanya bisa terpikirkan dengan situasi yang terus memaksa mereka harus melakukan dan terus menjalankannya, dengan keterpaksaan diri tentunya. Banyak sekali pekerjaan yang harus dituntaskan oleh mereka pada waktu bersamaan, waktu untuk menjadi seorang wanita yang berada dalam lingkungan malamnya dan juga dalam menggunakan waktunya dalam mendapatkan jati dirinya saat itu. Misalnya saja mulai dari menghidupi kehidupannya, menghidupi keluarganya, serta menghidupi apa yang bisa mereka hidupkan dengan tangan dan pikirannya itu.

Apa yang terjadi ketika mereka terus bertindak dengan ketidakwajaran hidupnya saat itu? Mereka hanya bisa berpikir minim dan berpasrah mengenai sebab muasal dari ketidakadilan hidupnya. Mereka terus berjuang dengan mempertaruhkan sebagian hidupnya dengan daya upaya yang sedikit memaksakan kehendak hidupnya saat dirinya berada di dunia yang memang bukan dunianya. Mungkin ataukah itu pasti aku tak begitu tahu saat mereka mulai menangis dengan kesedihan yang luar biasa ketika mereka mencoba terus ingin menjauh namun tak bisa mereka lakukan, dan aku hanya bisa berkata begitu saat semuanya berada dalam posisi yang saling berhadapan dengan diriku di sebuah ruangan itu.

Apa yang bisa mereka lakukan ketika mereka bisa menjadi sebuah serpihan benda yang tak bisa utuh kembali aku katakan? Sebenarnya yang mereka lakukan adalah mencoba terus dan terus memejamkan mata untuk melihat sisi terdalamnya (dengan melihat dan mempertanyakan kepada hatinya) mengenai kehidupannya yang kemarin, dan melupakan keterasingan akan dunia yang sudah membumihanguskan keindahan hidupnya saat itu. Impiannya yang sejak dini diinginkannya mungkin tak dapat diwujudkan dengan dunianya yang sekarang, Mereka tak bisa menjadikan sesuatu keindahan bagi dirinya dan juga tentunya bagi sebagian orang yang menganggapnya suci lagi. Mereka menangis, mereka merenung dan mereka terus lari dari kenyataan yang ada bahwa setiap kehidupannya memang sesuram kehidupannya saat ini.

 Sebuah rasa yang terus teringatkan mengenai apa yang menjadi buah bibir mereka, mereka terus menginginkan hal itu menjauh dari kehidupannya. Tapi, apa daya yang bisa mereka lakukan selain melempar kesedihannya untuk sebuah materi untuk didapatkan dengan mudah, tanpa kesusahpayahan dan juga tanpa ada tenaga yang banyak untuk melakukannnya dengan sesuatu yang menurutnya baik? Tentunya mereka hanya bisa berpasrah menghadapi semuanya itu dengan apa yang bisa didapat.

Pengorbanannya aku akui memang terlalu besar untuk bisa terlepaskan dengan mudah, dengan mempertaruhkan keperawanannya demi setumpuk tumpukan materi sebagai pengganti kehidupannya kedepannya. Dengan tujuan agar dirinya bisa hidup dengan apa yang sebenarnya mereka bisa, mereka harus bisa mendapatkan beberapa lembar materi untuk sebuah kehidupan yang tak mudah mereka langkahi, mereka jejakkan, serta mereka genggam dengan kemudahannya.

Mereka berpikir juga dengan akal pikiran sehatnya itu, saat dirinya tersadarkan bahwa kehidupannya memang tergantung dengan usaha apa yang mereka lakukan. Ketika mereka merenung dengan setiap kesedihannya, mereka pernah bertanya kapada hatinya sendiri mengenai langkah kaki yang harus terpijakkan dengan leluasa : “Harus bagaimana lagi mendapatkan sepeser materi dengan singkat jika tak melakukan hal tersebut? Apakah aku harus melamar pekerjaan yang tentunya sukar untuk didapatkan? Berjalan dari tempat yang satu ke tempat lain tanpa keahlian yang maksimal? Dan yang tentunya disesalkan adalah ketika diriku tak bisa lagi mendapat apa yang diharap. Tanpa ada belas kasih mereka akan melecehkan dengan rendahnya, dan aku sendiri tak mau seperti itu! Memakai pakaian semi formal dengan sedikit polesan make up tipis, dengan beberapa izajah yang tak berlaku lagi yang tentunya harus bekerja keras dengan sedikit imbalan materi, dan yang mungkin ketika aku berada di sana aku akan terus dimaki oleh atasan yang memang sangat-sangat arogan akan sikapnya. Tidak! Aku tak ingin seperti mereka yang mengemis kelaparan dengan imbalan yang tak seberapa.” Dirinya berkata dengan meninggi akan emosi terdalamnya, dan diakhiri dengan kata-kata yang sedikit memaksa untuk tak melanjutkan percakapan tersebut, “tolong jangan bahas kembali mengenai alasan diriku untuk memberi penjelasan yang mungkin dirimu sudah mengerti dengan keadaan diriku ini!”

Mereka berpikir inilah jalanku untuk menghidupi mereka (keluarga). Sebagai tulang punggung yang menanggung setiap beban yang tertanggungkan olehku. Apa yang bisa mereka perbuat lagi selain menjadi seperti itu? Apa mereka harus menjadi orang pintar terlebih dahulu dan selanjutnya mendapatkan materi yang banyak? Apakah mereka harus menjadi penipu ulung yang menipu setiap jengkal makhluk untuk keuntungannya semata? Apakah mereka juga harus menjadi penyamar bagi setiap individual yang percaya kepada dirinya saat itu? Tidak, mereka tak seperti yang terbayangkan sebelum diriku mengetahui apa yang mereka rasakan. Mereka saat ini hanya bisa bersikap bodoh saja, bersikap hal itu tak salah dan hal itu memang tak berdosa sama sekali. Padahal… dengan setiap tingkah laku yang diperbuatnya, mereka sangat mengetahui dosa yang bisa mereka tanggung dan itu harus berulang-ulang kali mereka melakukannya dengan setiap pijakan yang terlalu sukar untuk melangkahkan ke dalam kebenaran.

Saat mereka berkata seperti itu, aku hanya bisa diam seribu kata tanpa ada alasan yang jelas mengenai diriku yang terdiam. Aku diam tak bersuara, aku tak mengerti juga ketika mereka menyebutkan akan perkataan tersebut dan terdengar di kedua telingaku saat itu. Apakah aku tak bisa menjawab pernyataannya ataukan aku tak bisa memberi penjelasan kepadanya saat itu? Namun yang jelas diriku terpaku, terdiam dengan sedikit tersipu malu mengenai kehidupannya. Aku saat itu bukan malu untuk dekat dengan seorang penjajal seks komersial, namun aku malu dengan kehidupanku sendiri yang termudahkan dengan apa yang bisa didapatkan, sedangkan dirinya? Dirinya tak bisa mendapatkan kebahagian dimata keluarganya ketika dirinya terdiam tak bergerak memburu dan terus mencari untuk mendapatkan suatu makanan dari hasil pekerjaannya tersebut.

free.jpg

salam,

dhie_uno

Ph : +628 123 624 6060

E : private_modem149@yahoo.com

Posted in Uncategorized on August 5th, 2009

Kedua, wanita yang ingin mendapatkan sebuah gaya hidup (lifestyle) sekelas kalangan konglomerat. Sungguh tak ironis lagi memang ketika sebuah gaya hidup untuk masa sekarang sudah menjadi impian bagi mereka, impian untuk menarik diri dari kehidupan yang tak kunjung merubah akan nasibnya menjadi seseorang yang memiliki keadaaan yang utuh. Maksud “keadaan utuh” di sini adalah ketika mereka ingin menginginkan untuk mencoba menyamaratakan kehidupannya itu dengan segelintir orang yang memiliki cita rasa tinggi mengenai cara hidup yang begitu mewahnya, cita rasa menjadi seorang wanita yang memang benar-benar sukses dengan apa yang mereka dapatkan dengan kelakuannya itu. Tak lebih hanya untuk sebuah kehidupan yang menjadikan dirinya bisa dihargai oleh kebanyakan orang yang memang mengiri kepada orang-orang kaya yang mencoba mempertontonkan kelebihan hartanya itu.

Sebuah gaya hidup barat misalnya, mereka terus meniru apa yang ingin mereka capai untuk bisa dipertontonkan kepada khalayak ramai mengenai sebuah jati dirinya itu. Mereka dengan pasti tak akan dianggap sebagai orang yang gagal ataupun orang yang terasingi diantara dunia yang cepat merubah keadaan makhluknya itu jika dirinya bisa beradaptasi dengan cepat terhadap perkembangannya tersebut (perkembangan untuk beradaptasi akan perkembangan yang terjadi akhir-akhir ini yang dirinya mempunyai beberapa materi dan kemudian mereka memberikan persembahan untuk tubuhnya sebuah gaya hidup yang seharusnya melekat pada pikiran dan ingatanya).

Mungkin ketika mereka sudah berada di dalamnya, mungkin mereka tak akan dianggap juga sebagai orang yang Gaptek (gagap teknologi) dan juga tertinggal akan perjalanan di dalam kehidupan dunia yang sungguh-sungguh memang cepat berubah meninggalkan tradisi yang dulu dan digantikan dengan perkembangan zaman yang selalu berubah setiap saatnya. Aku tak bisa juga mengelak bahwa keinginan untuk tak dianggap orang yang bodoh diantara orang-orang kelas atas adalah sesuatu hal yang memang lumrah untuk bisa didapatkan dengan genggaman tangan ketika keinginan itu sudah ingin didapatkan dengan sesegera mungkin.

Ada beberapa pertanyaan dari diriku kepada pikiran dan hatiku itu, “Apakah kehidupan dengan gaya hidup modern telah merubah kehidupan manusia pada umumnya akhir-akhir ini? Jelas tentu, mereka tak ingin disebut orang yang Kuper (kurang pergaulan). Namun saat ini, sangat disayangkan sekali ketika mereka terlalu belebih untuk mndapatkan kehidupanya saat ini, yang mendapatkan apa yang didapat dengan mudahnya. Apakah mereka keliru melakukannya? Aku rasa tidak, mungkin mereka sangat tahu betul dalam urusan mendapatkan kehidupannya saat ini. Apakah harga diri mereka bisa disamaratakan ketika gaya hidup saat ini sudah menjadi tuntutan kehidupannya? Aku jawab iya, mereka sangat tahu akan perkembangan untuk mendapatkan kehidupannya.”

Sekali lagi aku bisa katakan dengan setiap konsekuensinya itu bahwa dalam menghadapi dunia yang sudah tak berpihak lagi kepada dirinya saat itu, saat mereka bisa menyamai setiap jengkal kakinya itu terhadap kehidupan para ratu yang memiliki harta yang begitu banyaknya, maka mereka akan cepat berada dalamruang lingkup dan juga dengan mudahnya bisa masuk pula ke dalam golongan yang memang orang rendahan (dalam segi ekonomi) tak akan bisa bercakap bebas dengan mereka-mereka itu (golongan orang yang setingkat lebih atas diantara medium class).

“Apakah hal itu memang benar-benar ada di daratan ini?” aku bisa katakan “Iya, kenapa? Karena mana mungkin mereka (orang bodoh yang tak mempunyai harta lebih) bisa berbincang dengannya saat mereka bisa mendekat dengan orang-orang itu sudah dihalangi pagar betis yang kokoh dengan berdiri tegap melawan orang-orang usil (pengungsi ataupun pengemis yang mengais rezekinya). Walaupun mereka bisa berbincang, mungkin sebagian besar dari mereka pastinya hanya ingin mendapatkan “Penghormatan ataupun Penghargaan yang dinilai memunafiki orang-orang itu dengan sikap dan prilakunya.” Ya walaupun tak semua orang (orang dermawan yang sulit memberikan hartanya) bisa melakukannya, tapi hanya sedikit sekali mereka ingin memberikannya langsung. Dan yang disayangkan sekali adalah waktu mereka hanya bisa dilakukan pada waktu-waktu tertentu dan tidak berlangsung lama.

Dengan sebuah keyakinan yang tinggi, ketika mereka berada bersebelahan dengan mereka (para ratu), para wanita itu terus memperhatikan apa yang harus mereka lakukan sesegera mungkin  hingga mereka nantinya bisa sejajar ataupun bisa melebihi gaya hidupnya saat itu, hingga mereka tak dianggap sebagai wanita rendahan yang mencoba peruntungan mendapatkan laki-laki yang mempunyai harta yang berlimpah pula. Sebuah gaya hidup merupakann sebuah modal utama baginya, ketika mereka mengharapkan materi yang mereka inginkan lebih. Mungkin dengan hal tersebut mereka bisa menjadi sesuatu yang lebih pula ketika semua orang khususnya para lelaki yang mendambakan wanita yang berkelas tinggi untuk bisa didapatkan dalam waktu yang tak terlalu lama.

Saat berada dalam ruangan yang sama disaat mereka bisa berpapasan dengan lembutnya, apakah mereka (laki-laki) akan terus diam tak bergerak ketika mangsa yang ada di hadapannya begitu indah untuk bisa didapatkan dan juga untuk bisa dimiliki dalam waktu satu malam saja? Mungkin sekiranya iya bagi pra laki-lakinya. Sedangkan bagi para wanita itu? Mungkin ketika mereka (wanita) sudah tahu gelagat laki-lakinya mereka akan menjual mahal terlebih dahulu dan mungkin akan melakukan tarik ulur kepadanya, karena mereka pastinya sudah terlalu lihai dalam mengatur alur akan percakapannya dan mempermainkan bahasa tubuhnya saat itu.

Saat ditanya mengenai berapa banyak materi yang dikeluarkan untuk mencukupi kebutuhan dengan gaya hidup yang mewah tersebut, mereka menjawab dengan ringan mengenai perkataanku tadi : “Tak banyak waktu juga untuk mendapatkan hal tersebut dapat terwujudkan. Mereka (laki-laki) pastinya akan memberi satu per satu barang yang aku inginkan ketika mereka sudah merasa puas akan pengalamannya bersama kami. Dengan materi yang bisa aku dapatkan dari hasil tersebut, lambat laun aku pun bisa mendapatkan setiap apa yang aku inginkan. Dan akhirnya, jadilah aku yang sekarang… yang bisa meraup keinginan dengan melayani kelas-kelas atas seperti mereka itu.”

Mungkin bagi sebagian orang untuk mendapatkan keinginan yang disebutkan di atas memang tak begitu sukar, namun ada juga yang menyebutkan dalam mendapatkan  hal tersebut harus mempunyai keluwesan dalam mendapatkan sesuatu itu dengan kesusahpayahannya. Ya ambil saja contoh dengan mengenakan pakaian yang berkelas tinggi disertai perlengkapan pendukungnya (accessories,parfume,jewelry,etc…), mungkin tak sedikit pula materi yang harus mereka keluarkan sebelumnya, dan itu hanya sekedar pemanis untuk bisa memuaskan para lelaki yang sudah bergegas memburu mereka-mereka itu sebelum beranjak pergi ke tempat asalnya (rumah yang setidaknya sebagai singgahannya di malam hari).

Mengapa hal yang seperti itu bisa dikatakan sebagai life style atau gaya hidup? Apakah hal itu ada hubungannya dengan sebuah pertautan malam yang memang sukar untuk diberantas? Jelas hal itu termasuk kedalamnya, mengapa? Karena dengan bermodalkan keindahan mode yang bisa mereka kenakan, serta raut muka yang begitu eloknya untuk bisa dicicipi dengan menyelipkan materi yang tak sedikit, ini bisa digolongkan dengan sebuah komunitas yang menyukai gaya hidup yang tak bisa ditawar lagi. Gaya hidup metropolitan sekarang sudah menjamah setiap gadis yang dahulu bermodalkan tubuhnya untuk menarik perhatian laki-lakinya dan sekarang memiliki jaringan yang lebih lebar lagi dalam penyampaian pesannya. Misalnya lewat situs illegal ataupun melalui members yang sedikitnya sukar untuk dilacak keberadaannya.

Ada sedikit pertanyaan ketika diriku berada dalam satu ruangan dengan mereka, aku bertanya : “Gaya hidup seperti apa yang memang kalian lakukan di dalam pekerjaan ini? Apakah hal ini sudah termasuk gaya hidup kalian?” Dan mereka pun menjawab “ “Iya benar, apa yang aku lakukan saat kemarin dan sekarang adalah sebuah gaya hidup kami pada umumnya. Yang melayani mereka sebagai pekerjaan kami, yang merupakan pekerjaan yang lumrah untuk kami selesaikan sampai tuntas. Gaya hidup kami sekarang memang seperti ini. Dan untuk saat ini juga, inilah yang bisa kami andalkan dengan setiap jengkal pengorbanan kami sebagai wanita malam yang memperdagangkan tubuh kami kepada lelaki hidung belang. Ini memang life style kami sebagai wanita penjual kenikmatan, dan untuk kesemuanya itu pastinya ada resiko yang kami tanggung. Namun, hal itu tak jadi masalah. Kenapa? Karena aku sudah membuang jauh-jauh rasa yang tak penting itu untuk bisa disimpan lama-lama, dan hal itu hanya membuat kita merasa menyesal dengan keadaan yang sekarang. Ya intinya, semua yang aku lakukan tak aku sesali, semua yang aku dapatkan tak bisa merubah keputusan yang bijak untuk kembali ke masa yang lalu. Sekarang hanya untuk sekarang, dan yang lalu biarlah menjadi pelajaran penting untuk dilupakan dengan ingatan sempit kita.”free.jpg

salam,

dhie_uno

Ph : +628 123 624 6060

E : private_modem149@yahoo.com

Posted in Uncategorized on August 5th, 2009

Dan yang terakhir, wanita yang ingin mendapatkan harga dirinya dihargai oleh orang di atas harkatnya. Ketika sebuah harga diri yang dipikirkannya lebih mahal diantara sebuah rasa malu ketika mereka (orang-orang di sekitarnya) melihatnya, maka mereka (para wanita) itu mencoba melakukan berbagai cara dengan melakukan hal tersebut (melakukan hal semacam pembuktian diri dengan memberi sesuatu kepada orang lain.) Dan yang dimaksudkan tersebut adalah menjual dirinya kepada lelaki yang mengharapkannya dengan tujuan mendapatkan sesuatu materi yang didalamnya bernilai tinggi, dan dirinya pun akan dipandang sebagai orang yang memiliki kedudukan tertinggi di atas orang-orang yang meliriknya sempurna, yang memiliki harta dengan materi yang lebih dari cukup.

Saat mereka (wanita) mendambakan sesuatu untuk digenggam, mereka mencoba menghilangkan rasa malunya itu dengan memberi sebagian tubuhnya untuk mereka (laki-lai) miliki sekejap saja. Semuanya yang dilakukan adalah demi suatu hal yang menyangkut dirinya sendiri (sebuah harga diri), yaitu kedudukan yang ingin melebihi orang yang bermartabat rendahan. Mereka tak ingin disebut wanita gagal ataupun sebagai seseorang yang bermartabat rendah, yang hanya bisa merintih kesakitan tanpa sesuatu yang pasti, yang sengsara dengan keadaan yang sudah diambang kesedihan, dan yang memang dirinya saat itu sebagai orang yang tak memiliki sedikit harta untuk mereka dapatkan dari jerih payahnya itu.

Mereka (wanita) tak ingin dicemoohkan oleh orang-orang kaya yang memiliki harta, mereka tak inginkan sesuatu yang tentunya sakit sebagai sebuah kesengsaraannya itu hinggap terus-menerus mendekap dikehidupannya, dan mereka juga pernah berkata bahwa : “Aku tak inginkan kemiskinan materi ini terus untuk mereka cela dengan kerendahan sebagai binatang yang tak bisa memberi arti dikehidupan mereka. Semua itu harus berubah, semua itu harus bisa menjadi perubahan yang besar ketika apa yang aku lakukan tak sia-sia. Aku hanya ingin dihormati tanpa dilecehkan akan kehidupanku, aku hanya ingin mendapatkan kepuasan batin tanpa ada orang lain menganggapku sebagai wanita rendahan, dan aku hanya ingin mendapat tempat yang mewah ketika ada sesuatu yang bisa membuatku bisa berada di tempat tersebut. Walaupun aku hina dengan pekerjaanku ini, tapi hanya aku dan Tuhan saja yang bisa mengkritiki diriku seperti itu. Orang lain tak perlu tahulah tentang keburkan diriku sebagai orang yang sengaja melepaskan harga diriku menjadi orang yang kelaparan akan materi dan keinginan besarku mnjadi wanita setenga bagian dari mereka yang menjadi tolak ukurnya itu.”

Tak bisa dipersalahkan juga saat mereka berkata itu, tak ada lagi yang harus diingatkan ataupun dinasihati lagi saat mereka terus berusaha dengan keinginannya sedangkan diriku mencoba melarang dan juga berdiskusi panjang dari setiap pikiran untuk menjadi lebih tinggi diingatannya. Aku tak mempersalahkan kehidupannya ketika mereka harus berjuang dan menjadi bagian dari malam-malam yang memang begitu dingin dan di sana ada bebarapa keindahan akan malamnya itu. Ya sebut saja dengan tak merendahkannya bahwa wanita sekarang sudah banyak sekali mencari nafkah untuk hidupnya di dunia yang seharusnya mereka tertidur lelap dengan beberapa mimpi-mimpi indahnya itu saat langit mulai menggelap.

Ketika ditanya saat mereka harus memilih sesuatu mengenai dirinya, saat mereka harus memilih antara tetap pada pendirian yang mempertahankan harga diri atau memilih sebagian tubuhnya diperas oleh orang-orang tak bertanggung jawab dengan tujuan mereka berada di tempat elegant, mereka menjawab : “Aku akan melakukan apapun untuk bisa berada dalam kemewahan ini, aku tak ingin harga diriku dimaki oleh mereka dan aku ingin memiliki semuanya itu ketika diriku tak inginkan hal itu selalu berada dalam ruang lingkup yang begitu nelangsanya. Mungkin aku berpikir, harga diriku memang ingin disamakan dengan mereka yang tak bisa dimaki di depan umum. Itu memang benar saat kau tanya hal itu. Menurutku, semua penciptaan yang telah Tuhan berikan memiliki kodrat yang sama dalam setiap diri manusia. Namun semua itu salah, sekarang ini kebanyakan orang hanya mengagungkan materi yang berlipat ganda di dalam dirinya. Mereka akan berpikir matang ketika materi adalah segala-galanya yang bisa diandalkan. Tanpa mereka (segunduk materi), mungkin kita takkan ada apa-apanya untuk dipandang oleh mereka-mereka yang tergolong orang-orang bermartabat tinggi. Jika kita tak memiliki materi tersebut, mereka akan membuang kita, mereka takkan mengenal kita, mereka hanya akan menganggap kita begitu kecil, mereka hanya akan menganggap kita sebagai sampah, dan mereka akan terus menghina kita habis-habisan hingga kita bisa menangis dengan penyiksaan dari kata-kata pedasnya itu. Aku tak ingin hal seperti itu mucul ketika diriku tak siap mendengarkannya dan aku juga tak ingin mereka terus menyiksa kita dengan keadaan kita yang serba tak menentu. Semua yang aku lakukan adalah hanya untuk menghindar saja dari sesuatu hal yang berbau kesedihan, berbau kesengsaraan dan juga berbau  penyiksaan batin yang tak kunjung terhenti ketika mereka benar-benar tak menghargai kita sepenuhnya. Mungkin semua itu mustahil akan semuanya, kenapa? Karena mereka takkan pernah mengerti mengenai arti hidup yang sebenarnya ada dari diri kita ini, mereka tak bisa merasakan kehidupan kita ketika dirinya mengetahui begitu rendahnya jalan yang bisa kita ambil dengan berjalan mengikuti arus hidupnya.”

Saat dirinya mengatakannya, aku mungkin bisa memberi sedikit kesimpulan sedikt saja mengenai hal itu karena aku juga tak begitu mengerti mengenai hal itu bisa menjadi sebuah alasan mereka melakukan hal tersebut : “Dalam diri kita pastinya memiliki beberapa kehidupan yang selalu berbeda dengan orang di sekitarnya. Semua mempunyai sifat, mempunyai kepribadian individual maupun sosial, mempunyai impian, mempunyai takdir yang berbeda, mempunyai sesuatu keinginan yang ingin dilakukan, dan untuk yang satu ini mereka memiliki sebuah harkat dan martabat yang memang tak ingin dilecehkan oleh orang banyak hanya karena memiliki kemiskinan materi yang dahulu mereka dapatkan, dan sekarang mereka menemukan secerca sinar penghidupan dengan beralih posisi dari yang sebelumnya seorang pengemis yang meminta sesuatu hal kecil dan sekaranglah mereka bisa mendapatkannya dengan memuaskan nafsu keinginan lawan jenisnya tersebut, sehingga mereka saat ini tak dianggap buram bagi sebagian orang berkelas tinggi.”

Baiklah kita menyetujui kehidupan mereka (wanita) itu yang tentunya tergantung akan mereka yang bisa terlayani dengan baik. Jika mereka ingin dapatkan kepuasan, mereka sudah dapatkan. Jika mereka inginkan sebuah materi yang kecil kadarnya, mereka juga sudah rasakan. Jika mereka inginkan kesempatan untuk hidup, mereka juga sudah menikmatinya. Mungkin dari semua yang bisa aku tarik mengenai perkataan mereka adalah : Sebuah kehidupan dari sebuah harga diri mereka sendiri yang tak ingin menjadi sebuah santapan binatang yang tentunya sakit ketika mereka mencabik-cabik hatinya ketika berkata. Semua yang terjadi di dirinya menurutku hanya ingin menjadi ataupun sejajar dengan sederetan bangsawan yang sederajat. Mereka memang tak memperdulikan harta itu harus bisa dimiliki dengan semestinya, mereka tak inginkan lebih dari kesemuanya itu, namun mereka hanya ingin mendapatkan kesempurnaan di dirinya itu hingga orang lain tak bisa menganggapnya rendah. Mereka inginkan dirinya itu dipandang memiliki kepribadian tinggi yang memiliki cita rasa tinggi juga diantara petinggi-petinggi penguasa materi. Tak perduli jalan yang diambil itu salah, karena mereka menganggap harga diriku lebih tinggi dari apapun.

Aku tanyakan tentang sebuah ‘harga diri’ kepada seorang teman yang memang mengais rezeki dari tempat tersebut, “bukannya harga diri kalian akan hilang ketika dirimu melepaskan tentang keperawanan kalian itu? Apakah kalian pernah menyesal ketika hal itu dilakukan untuk pertama kali, dan seterusnya melakukan lagi dan lagi hingga kalian tak bisa merasakan kenikmatan akan persetubuhan itu?”

Temanku menjawab dengan nada yang memang ingin meyakinkan diriku, “jika kita melihat ke belakang mengenai diriku yang sekarang, memang jauh berbeda dengan apa yang aku rasa saat ini. Memang aku akui tentang sebuah keperawananku sudah terampaskan dengan mudahnya saat mereka menjamah dan memasukan kemaluannya kepadaku dengan paksa. Semuanya sangat sakit sekali hingga diriku serasa mati rasa dengan itu semua. Aku memang menyesal karena semuanya hanya menenggelamkan sebuah kehidupanku ini, namun aku pun berpikir dalam hati : ‘jika aku seperti ini yang terus menangis dengan kesedihaku, maka aku akan menjadi sesuatu yang tak berguna sama sekali. Percuma juga ketika keperawananku hilang namun setelahnya diriku berdiam diri di ruang kosong untuk menangis!’ Aku berpikir saat ini yang aku pikirkan adalah tak inginkan sebuah keputusasaan yang menghancurkan hidupku untuk hidup. Aku memang relakan keperawananku itu hanya semata-mata untuk mendapatkan kehidupan yang lebih lagi, dan mungkin dari itu semua diriku bisa menjadi diriku yang memiliki harga diri yang sama dengan mereka-mereka itu. Ya jika itu tak terjadi, ya minimal diriku harus bisa menghidupi kehidupanku sendiri.”

Mungkin kehidupan mereka untuk tak direndahkan oleh kebanyakan sebagian orang adalah sebuah dilemma dan tamparan pedas bagi mereka (wanita) yang bisa merasakan. Mereka saat itu bisa dibilang merupakan sebuah bidang datar yang ingin menjadi sebuah cembungan-cembungan yang bisa menonjolkan diri menjadi sebuah gunung yang tinggi, yang bisa menggapai langit nantinya. Mereka tak ingin menjadi dasar lautan yang dalam, yang pada dasarnya tak terlihat dan mati dengan sebuah nama yang dipatok dengan potongan balok kayu tipis. Dan pada inti sebenarnya tentang mereka melakukan itu semua adalah hanya ingin sebuah harga dirinya bisa dimengerti oleh orang-orang di sekitar, yang bisa dihargai, dan juga yang bisa disejajarkan dengan orang-orang berkelas executive.

free.jpg

salam,

dhie_uno

Ph : +628 123 624 6060

E : private_modem149@yahoo.com

Posted in Uncategorized on August 5th, 2009

Setelahnya, aku kemudian menulis perihal kalimat inti dari beberapa jejak akan makna hidupnya saat itu. Dengan beberapa pointer yang bisa disimakkan, aku saat ini sudah banyak belajar mengenai mereka (wanita), seperti : Wanita yang bisa terkuatkan dengan suatu keadaan, padahal mereka itu sedang menangis. Wanita yang mencoba tersenyum, padahal mereka itu penuh dengan kesakitan di hidupnya. Wanita yang bisa mempertahankan hidup, walaupun hanya dalam kesendirian saja. Wanita yang ingin dianggap sebagai wanita karier yang sukses dengan apa yang mereka miliki, padahal mereka memang tersendiri tanpa ada yang bisa menganggapnya berhasil. Wanita yang terus berdandan diri dengan setiap kecantikan yang diinginkannya, padahal dirinya tahu kemampuan dirinya memang benar-benar ada. Wanita yang terus merubah individunya hingga melewati batas (wanita yang tak pernah puas akan dirinya), padahal dari apa yang dirinya punyai sungguh sangat memberikan pesona yang benar-benar pantas untuk terlihatkan. Wanita yang bisa menyembunyikan kesedihan diantara orang-orang terdekatnya, padahal dirinya ingin mereka itu merayu dan juga menghibur hingga tersenangkan kembali. Wanita yang bisa bersabar dengan kejadian-kejadian yang memilukan bersama orang-orang terasingnya, padahal dirinya menginginkan orang-orang terdekatlah yang bisa menemaninya saat itu. Serta wanita yang hanya bisa menyenangkan para pria pemuja kebebasan bercinta, padahal dirinya hanya ingin laki-laki pujaannyalah yang memang berada di dekatnya saat itu…

free.jpg

salam,

dhie_uno

Ph : +628 123 624 6060

E : private_modem149@yahoo.com

Posted in Uncategorized on August 5th, 2009

Cara pandang yang berbeda mungkin bisa menjadi salah satu sikap yang terus terpikirkan olehku ketika aku menganggap hal itu adalah nyata. Dan untuk mereka, untuk mendapatkan sebuah harapan, mereka hanya memiliki satu sikap, yaitu sebuah harapan tetap hidup di dalam sebuah kehidupan itu sendiri. Di antara kehidupan yang bisa mereka pilih, ada yang membuatku kagum dan teringat terus hingga diriku tak bisa lagi menganggapnya sebagai seseorang yang berkata membual, yang bersifat omong kosong saja. Dirinya berkata dengan hentakan nada yang tak terlalu tinggi untuk men-judge dirinya sendiri : “Maafkan jika diriku terbuang oleh harga diriku sendiri, ketika aku gadaikan setiap jengkal tubuh untuk menghidupi kehidupanku. Tak terpikir memang ketika hal jahat yang aku lakukan itu sungguh tak terpuji di mata mereka, yang menganggap semuanya hanya sebuah kebodohan diriku saja. Jika aku tahu hal yang sebelumnya itu salah, aku akan tetap bisa melakukannya. Ada pertanyaan yang hinggap, kenapa aku terus bisa melakukannya? Hanya beberapa alasan, yaitu karena aku sudah ditakdirkan untuk menjalani hari seperti hari yang sekarang. Aku tak merasa hina dan juga tak merasa bangga berada di dalam kehidupan yang sekarang, namun aku bisa menerima hal itu sebagai kehidupan yang harus aku lakukan, tanpa ada sesuatu yang berarti selain mendapatkan sesuatu untuk terbang, sebebas malaikat yang bebas pergi ke beberapa dunia yang berbeda waktu. Aku berpikir bahwa aku tak harus berdiam diri saja ketika aku melihat kehidupan yang memang berjalan sangat cepat, karena dari sanalah aku harus bangkit untuk menyelesaikan pertarungan hidup sampai pencabutan nyawaku telah tiba. Tak terpikirkan olehku untuk menghentikan perjalanan yang panjang ini, karena aku masih mempunyai niat untuk terus melakukannya sampai masa penghabisanku menghinggap. Setiap jengkal langkah yang aku lakukan adalah berjalan dengan hadapan ke depan, dan tak inginku berhenti dan kembali lagi ke belakang, karena aku tak pernah terbesitkan mengulang kejadian yang begitu munafiknya ketika aku berada dalam ruangan sebagus istana. Dan hal yang kemarin adalah bukan tempat tidurku yang nyata, yang bisa tertidur ketika disuruh, yang bisa memakan hidangan ketika sudah disediakan, dan yang bisa mencicipi materi dari tetua ketika mereka beri. Aku tak inginkan hal itu hinggap kepadaku, karena aku hidup hanya untuk diriku, aku bebas hanya aku yang merasakan, dan aku menikmati hidup hanya aku saja yang bisa menggenggamnya.

free.jpg

salam,

dhie_uno

Ph : +628 123 624 6060

E : private_modem149@yahoo.com

Posted in Uncategorized on August 5th, 2009

Tentang mereka,

Tak seorangpun akan mengelak,

ketika jiwa yang sudah luluh lantak, terhenti…

Tak ada pula yang bisa berkencang berlari,

ketika sudut pandang yang terus menghantui, datang dengan sendirinya

Keindahan, kemaslahatan dan juga keingintahuan….

itulah yang mereka cari dan ingin

Ketentraman serta kerelaan diri….

itulah yang mereka rasakan dengan rasa sakit…

Jiwanya tak bisa lagi terhenti,

Raganya tak bisa lagi ditukar,

Hidupnya tak bisa lagi dihilangkan,

Matinya tak bisa lagi diharapkan….

Mereka akan tetap hidup, walaupun seluruh arwahnya pergi meninggalkan jauh

free.jpg

salam,

dhie_uno

Ph : +628 123 624 6060

E : private_modem149@yahoo.com

Posted in on April 18th, 2009

Setelah sampai di kamar yang mungkin tak nyaman bagi orang-orang berkelas tinggi, aku pun sempat berpikir dalam hati tentang sebuah cinta yang ada dipikirannya, aku berkata, “Jeanny-Jeanny, lu dan yang lainnya sebenernya ga’ pantes banget ada di tempat yang kayak begituan. Secara lu tuh keren, wajah lu yang semi oriental ngebuat gua kepikiran terus tentang sesuatu yang emang lu tuh aneh aja sama apa yang bisa gua pikirin. Tapi, bagaimana pun gua harus ngehargain apa yang lu bisa lakuin. Hidupnya emang udah di jalurnya mungkin, hingga hal itu udah mendarah daging banget di kehidupannya itu. Ngomongin tentang sebuah rasa yang kayaknya ga’ akan pernah habis buat dimengerti, gua juga sama kayak lu Jeanny, yang ga’ bisa lagi percaya sama yang namanya cinta. Sakit hati banget yang gua rasa buat dapatin apa yang gua harap, dan itu semua ga’ pernah bisa jadi kenyataan, yang benar-benar nyata. Gua yang dulu emang benar ngagung-ngagungin cinta. Kalau cinta itu emang indah, cinta itu bisa ngebuat kita ngelayang jauh, dan juga bisa menjadi kita kehilangan akan sebuah kesedihan. Tapi, yang sekarang gua rasain udah ga’ ada lagi arti di hati gua buat ngemulai hal itu, ga’ ada lagi yang namanya nyempetin buat mikirin mereka. Emang lu (Jeanny) sama gua sama-sama sakit hati, tapi perbedaan lu sama gua adalah ; lu sekarang udah terlalu sakit hati, karena lu dulu dihianati, karena lu dulu dirampas akan keperawanan lu, dan karena lu dulu di tinggal pergi sama cowok lu yang bego itu. Sedangkan gua, gua yang sekarang ga’ mentingin yang namanya cinta karena gua udah capek banget buat ngejar-ngejar mereka, yang ga’ perduli sama sekali sama gua. Mereka ga’ ngerti tentang hati gua itu, bahwa gua emang bener-bener tulus buat ngedampinginya. Dan, balasan yang mereka kasih ke gua apa? Apa yang mereka katakan waktu gua ngemis-ngemis akan hatinya? Hanya sebuah campakan, yang ga’ perduli sama sekali, dan mereka ga’ ngaruh-ngaruhnya hatinya sama gua. Gua emang tipe orang yang terlalu berharap banyak akan mereka-mereka itu. Namun di hati gua ngerasa, apa gua salah kalau gua suka sama seseorang? Apa gua ga’ akan dapat kesempatan buat suka dan cinta sama mereka? Seharusnya mereka bisalah ngehormati atau seengganya ngasih kesempatan sedikit aja, atauminimal juga nerima gua apa adanya. Tapi, hal yang gua pengen itu emang ga’ pernah jadi kejadian yang nyata. Hanya sebuah pemanfaatan bagi mereka aja, waktu gua ngemis-ngemis cinta sama mereka. Dan ga’ sampai disitu aja penderitaan gua, gua saat itu udah dapatin yang namanya makian dari apa yang ga’ gua sangka-sangka, yang nganggep gua kayak orang tolol akan cinta, dan itu semua ngebuat gua terjelaskan dan gua juga dapat narik kesimpulan yang sangat-sangat sempit tentang mereka. Semua wanita yang gua kenal dulu hanya mandang harta dibanding dengan sebuah cinta yang gua miliki, hanya mandang uang buat mereka hidup, yang begitu naïf akan materi, dan yang mengelu-elukan kesempatan buat hidup senang dipikirannya. Mulai dari sanalah gua ngerasa cinta gua ga’ ada artinya sama sekali, dan sekarang gua emang ga’ mentingin soal perasaan lagi. Persetan dengan apa yang bisa gua rasa, ‘munafik’ gua katain buat mereka-mereka itu! Satu hal dari itu semua, saat gua masih ingat akan mereka, gua ga’ akan pernah ngebenci mereka yang dulu buat gua sakit, karena gua sampai kapan pun bakal ngehargain kalian sebagai seorang Hawa (wanita), sebagai makhluk yang pasti perlu seseorang pelindung akan dirinya, sebagai seseorang yang di dalamnya mempunyai hati yang begitu mulianya.”

Ketika aku bisa mengingat akan jalan yang aku jalani sekarang, diriku memang sudah salah mengartikan hidup di atas ketulusan, dan aku yang sekarang lebih memilih hidup diantara kebebasan itu. Bagaimana tidak, aku yang sekarang lebih menikmati hidup dibanding hari kemarin, yang dulu mengelu-elukan cinta. Namun, sekaranglah waktunya diriku menikmati masa kebebasan dibandingkan dengan memadu cinta, memadu kasih kepada seorang wanita yang terus membuatku bodoh, membuatku seperti seseorang yang bisa dipermainkan oleh wanita yang pandai bermain waktu. Dan, apa yang bisa aku lakukan saat ini? Hanya ingin mencoba melupakan, kemudian menikmati, dan setelahnya bergembira dengan diriku sendiri.

Aku tegaskan, aku tak ingin terus menjadi seperti dahulu, yang terus melayani mereka (wanita yang membuatku gila), yang mengantar kegiatan mereka, dan terus berharap lebih mengenai hubungan yang tentunya banyak menyita waktu panjangku. Itu mungkin sama halnya dengan mereka (wanita penghibur), yang tak memandang cinta sebagai kodratnya. Jika bisa memilih, mereka akan memilih materi dibandingkan tentang rasa yang sebenarnya mereka inginkan, karena mereka akan bisa melihat dunia luas jika memang benar-benar berada disana, berada dalam ruang lingkup kebebasan duniawi.

Aku memang tak pandai untuk mencintai lebih dari apa yang akan aku miliki nanti, aku tak bisa memulai cinta itu dengan cinta yang bisa aku raih. Sebenarnya ada satu keinginan yang ingin aku miliki ketika mulai mendekatkan diriku dengan apa yang aku inginkan, bahwasanya diriku ingin memiliki segudang kasih bersamanya kelak, memiliki apa yang bisa menjadi diriku sendiri, bisa memberi, dan bisa mengasihi. Namun sialnya diriku saat itu, semua yang aku impikan tentang seseorang itu selalu tak selalu menjadi kenyataan, dan hal itu seperti mimpi saja, yang menghilang ketika diriku terbangun dengan tersentaknya, dan hal itu kemudian musnah begitu saja tanpa terjelaskan dibenak.

Memang ketika diriku bermimpi tentang keindahan itu, mungkin juga kenyamanan batin akan selalu ada di akhir-akhir ceritanya. Tapi itu hanya kiasan saja, yang hanya sebuah pengelanaan di bawah alam sadar kita saja dan setelahnya itu pasti tak akan berwujud indah. Benar sekali aku katakan teman, “aku hanya mendapatkan bayangan-bayangannya saja tanpa ada kewujudan yang nyata. Hal itu sama dengan kehidupan yang aku miliki saat ini, yaitu tentang hubunganku dengan para wanita yang dahulu aku kenal, aku dekati dan juga aku begitu mengharapkannya.”

Beberapa kejadian yang bisa aku sebutkan, saat berada diantara mata-mata pemanis wanita itu dirinya hanya bisa diam dan tak berkomentar panjang. Diantaranya ; aku mendekatinya dan kemudian dirinya menjauh, aku menyapanya dan kemudian dirinya memaki, aku menyanjungnya dan kemudian dirinya hanya menganggapku berbual, aku menasihatinya dan kemudian dirinya diam, aku mengertikannya dan dirinya hanya bisa mendengar, aku yang terus berbincang dengannya dan kemudian dirinya mengakui bahwa ‘aku sudah memiliki kekasih’, dan satu lagi, aku yang mencoba berbicara pelan dan kemudian dirinya tak bisa mengertikanku dengan apa yang ada dihatinya.

Keep taking of book ‘Free… Sebuah Realitas!

free.jpg

dhie_uno

Ph : +628 123 624 6060

E : private_modem149@yahoo.com